UIN Ponorogo Bersiap Jadi Tuan Rumah KKN Nusantara Kemitraan Sunan Ampel 2026

PONOROGO – UIN Kiai
Ageng Muhammad Besari Ponorogo bakal menjadi tuan rumah Kuliah Kerja Nyata
(KKN) Kolaborasi Nusantara Persemakmuran tahun 2026. Persiapan mulai digarap
serius melalui forum Focus Group Discussion (FGD) yang digelar selama tiga
hari, 6–8 Oktober 2025, di Hotel Amaris Ponorogo.
Forum ini diikuti sembilan kampus yang tergabung
dalam eks IAIN Sunan Ampel. Di antaranya UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Maulana
Malik Ibrahim Malang, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, UIN Sultan Aji
Muhammad Idris Samarinda, UIN KH Achmad Siddiq Jember, UIN Syekh Wasil Kediri,
UIN Madura, UIN Mataram, dan tuan rumah UIN Ponorogo sendiri.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor I UIN Ponorogo,
Prof H Luthfi Hadi Aminuddin, M.Ag. Ia menegaskan pentingnya forum ini sebagai
ruang berbagi pengalaman dan menyusun strategi pengabdian masyarakat yang lebih
berdampak. “Sinergi seperti ini akan memperluas cakrawala dan memperkuat
tradisi keilmuan. Kita tidak hanya berbicara soal program, tapi juga sejarah
dan pengaruh nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.
Tema besar yang diusung tahun ini cukup unik,
yakni “Ekoteologi dan Moderasi Beragama dalam Dinamika Kampung Pekerja
Migran: Membangun Resiliensi Spiritual, Sosial, dan Lingkungan.”
Menariknya, dua pemateri langsung tampil di hari
pertama. Dr Syaiful Mustofa, dosen UIN Malang sekaligus senior Pengabdian
masyakat, membuka sesi dengan bedah buku pedoman KKN yang diterapkan di UIN
Malang pada 2023. Mulai dari pemetaan potensi desa, peran DPL, hingga pelaporan
kegiatan, dibedah secara praktis dan aplikatif. Materi ini menjadi bekal
penting dalam menyusun pedoman baru yang lebih kontekstual.
Pemateri berikutnya, Prof Ngainun Naim dari UIN
Tulungagung yang juga Ketua Forum LPPM PTKIN, mengupas sejarah terbentuknya KKN
Kolaborasi Persemakmuran. Ia menyebut kolaborasi ini bukan hanya program,
tetapi bentuk nyata dari ukhuwah akademik lintas kampus. “Semangatnya adalah
merawat jejaring dan merespons kebutuhan zaman. Kita perlu bergerak bersama,
tidak berjalan sendiri-sendiri,” tegasnya.
Masih di hari pertama, para Ketua LPPM dari
sembilan kampus menandatangani nota kesepakatan bersama. Dokumen ini akan
menjadi pijakan utama dalam penyusunan buku pedoman KKN Kolaborasi 2026
mendatang.
Ketua LPPM UIN Ponorogo, Dr Nur Kolis M.Ag,
menjelaskan bahwa forum ini difokuskan pada pematangan roadmap dan penyelarasan
program kerja. Ia menekankan pentingnya pedoman yang adaptif dan berbasis
kebutuhan masyarakat desa. “FGD ini jadi ruang untuk menyatukan arah. Kita
ingin pengabdian mahasiswa nanti benar-benar terasa manfaatnya,” katanya.
Hal senada disampaikan Kapus Pengabdian UIN
Ponorogo, Dr Dewi Iriani M.H. Ia menyebut bahwa sebagai tuan rumah, UIN
Ponorogo siap memberikan yang terbaik. “Kita siapkan semua dengan serius. Mulai
SDM, buku pedoman, hingga teknis pelaksanaan di lapangan,” ucapnya.
Hari kedua diisi dengan diskusi tematik soal
ekologi dan moderasi beragama di kampung pekerja migran. Diskusi berjalan
aktif, peserta saling berbagi pengalaman serta strategi penguatan peran
mahasiswa dalam membangun resilensi masyarakat dari berbagai sisi spiritual,
sosial, dan lingkungan.
Antusiasme peserta begitu terasa sepanjang forum.
Diskusi berlangsung hidup dan penuh gagasan segar. Salah satu panitia
mengatakan, “Hari pertama saja sudah sangat padat dan inspiratif. Harapannya,
ini jadi awal dari pelaksanaan KKN kolaborasi yang lebih kuat tahun depan.”
FGD ditutup dengan rumusan bersama yang akan
dituangkan dalam buku pedoman KKN Kolaborasi Persemakmuran 2026. UIN Ponorogo
menegaskan kesiapan penuh sebagai tuan rumah. Dengan pengalaman yang dibagikan
UIN Malang dan UIN Tulungagung, serta dukungan penuh dari sembilan kampus, KKN
kolaboratif ini diharapkan menjadi model pengabdian masyarakat yang aplikatif,
inklusif, dan berdampak langsung.(dsk)
Tag : Berita Terkini