MENGABDI DENGAN CINTA DAN KEBERANIAN (LP2M UIN KHAS Jember Latih Dosen dalam Metodologi Responsif Gender)

Home >Berita >MENGABDI DENGAN CINTA DAN KEBERANIAN (LP2M UIN KHAS Jember Latih Dosen dalam Metodologi Responsif Gender)
MENGABDI DENGAN CINTA DAN KEBERANIAN (LP2M UIN KHAS Jember Latih Dosen dalam Metodologi Responsif Gender)
Preview

Jember, 10 Oktober 2025 – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember menggelar kegiatan Peningkatan Kapasitas Metodologi Pengabdian Berbasis Penelitian Responsif Gender, Jumat (10/10), di Gedung Rektorat Lantai II.

Kegiatan ini diikuti oleh 50 dosen dari lima fakultas di lingkungan UIN KHAS Jember dan dibuka secara resmi oleh Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M. Turut hadir Wakil Rektor I, Prof. Dr. M. Husna Amal, M.Si., Ketua LP2M, Dr. Zainal Abidin, M.Si., Kepala PSGA, Alfisayah Nurhayati, M.Si., serta para kepala pusat lainnya.

Dua narasumber utama yang hadir dalam pelatihan ini adalah Dr. Mohammad Mahpur, M.Si. dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Dra. Farkha Abdul Kadir Assegaf, M.Si., Founder Tanoker Ledokombo Jember, yang dikenal sebagai praktisi pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas.

Dalam sambutannya, Dr. Zainal Abidin menyampaikan bahwa kegiatan ini penting untuk meningkatkan kualitas pengabdian masyarakat yang responsif terhadap isu gender dan anak. Ia menekankan bahwa pengabdian yang dilakukan dosen, baik yang didanai Kementerian Agama maupun pihak kampus, perlu memiliki fokus yang berpihak pada kelompok rentan.

“Kita cukup beruntung karena hari ini dihadiri oleh dua narasumber sekaligus praktisi yang telah terbukti mampu mendampingi komunitas hingga mandiri. Harapannya, ini akan memperkaya wawasan kita dalam melaksanakan pengabdian yang tidak hanya hadir, tapi juga membawa transformasi,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Hepni, dalam sambutannya menyampaikan pandangan filosofis mengenai makna pengabdian. Ia menegaskan bahwa pengabdian bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bentuk pelayanan berbasis kasih sayang dan kepedulian.

“Pengabdian itu sejatinya layanan. Layanan yang dilandasi kepedulian. Seperti kata John F. Kennedy, ‘Jangan tanyakan apa yang negara bisa berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang bisa kamu berikan untuk negaramu.’ Ini relevan dalam konteks kontribusi dosen kepada masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya mengarusutamakan nilai-nilai anti-kapitalistik dalam pengabdian, yang menurutnya harus berbasis “ekologi dan kurikulum cinta”. Ia menyampaikan akronim “ABDI” sebagai prinsip dasar pengabdian:A: Afirmatif – Memberikan kemudahan bagi yang membutuhkan.B: Brave – Berani menghadapi tantangan dan hambatan.D: Dedikasi – Totalitas dalam mengabdi.I: Inspiratif – Menjadi teladan dan sumber semangat. Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan musik, lalu sesi pelatihan dan diskusi bersama para narasumber. Para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan yang diharapkan dapat memperkuat kapasitas dosen dalam melakukan pengabdian berbasis penelitian, khususnya yang responsif terhadap isu-isu gender dan perlindungan anak. (dsk)

 


Tag :

Diposting Pada : 10 Oktober 2025, 10:45 | Oleh : Moh. Dasuki
Dilihat : 135