Sebatang Tusuk Sate dan Tamparan Ego Mahasiswa: Pelajaran Pengabdian KKN UIN KHAS Jember dari Bilik Bersahaja Buk Has

Media Center – Kuliah
Kerja Nyata (KKN) kerap diidentikkan dengan program fisik yang megah atau
acara formal di balai desa. Namun, makna pengabdian sesungguhnya justru
ditemukan oleh Tim KKN 45 Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN
KHAS) Jember melalui sebuah perjumpaan yang menggetarkan hati di Desa Pucang
Anom, Kecamatan Jambesari.
Memasuki minggu pertama
penerjunannya di lapangan, tim mahasiswa yang didampingi oleh Dosen Pembimbing
Lapangan (DPL) Dr. Wildan Hisbullah Suhma, S.Ak., M.Ak., menyusuri setiap sudut
desa untuk bersilaturahmi dengan warga. Dari percakapan hangat tersebut, muncul
satu nama yang begitu dihormati masyarakat setempat: Buk Has, seorang
guru ngaji lansia yang telah mendedikasikan hidupnya mendidik generasi muda
desa.
Berbekal rasa penasaran dan
ekspektasi akan sebuah lembaga pendidikan Al-Qur'an modern, tim KKN 45
melangkahkan kaki menuju kediaman Buk Has. Namun, ekspektasi tersebut berganti
menjadi momen refleksi diri yang mendalam. Mereka tidak menemukan bangunan megah,
melainkan sebuah bilik bersahaja berukuran meter—ruang seukuran bentangan karpet yang
menjadi saksi bisu perjuangan spiritual selama lebih dari dua dekade.
Menjaga Nyala Cahaya Al-Qur'an
Sejak Era Sebelum Listrik
Dedikasi Buk Has bukanlah
perjuangan seumur jagung. Wanita lansia berstatus janda ini telah mengajar
mengaji sejak Desa Pucang Anom belum tersentuh penerangan listrik. Ketika
jemari kecil para santri masih menunjuk huruf hijaiyah di bawah remang cahaya lampu
minyak, Buk Has telah mendedikasikan dirinya untuk membumikan Al-Qur'an.
Kini, di tengah gemerlap lampu
neon dan modernisasi zaman, semangat spiritualnya tak sedikit pun meredup.
Seorang diri tanpa asisten dan tanpa mengharapkan gaji, beliau rutin membimbing
4 hingga 10 orang santri setiap harinya.
Sebuah keunikan tampak saat
proses belajar-mengajar berlangsung. Buk Has memanfaatkan sebatang bilah bambu
bekas tusuk sate sebagai penuntun huruf suci bagi para santrinya. Keterbatasan
fasilitas dasar tak menjadi penghalang bagi keikhlasannya untuk terus
mencerdaskan generasi penerus.
"Dulu ada wali santri
yang memberi saya uang untuk bayar listrik, tetapi saya tolak. Saya katakan,
dalam keadaan bagaimanapun, pembelajaran Al-Qur'an ini akan tetap saya
jalankan. Insya Allah, Allah mampukan sekalipun tanpa gaji dan bantuan,"
tutur Buk Has mengenang keteguhan niatnya.
Pelajaran Berharga di Luar
Ruang Kuliah
Pengalaman mendampingi Buk Has
mengajar menjadi tamparan pengingat sekaligus momen peruntuhan ego intelektual
bagi para mahasiswa KKN 45 UIN KHAS Jember. Penulis berita, Hildatus Salama,
beserta tim menyadari bahwa pengabdian masyarakat yang hakiki tidak selalu
membutuhkan panggung besar atau sorotan kamera, melainkan ketulusan hati yang
nyata.
DPL KKN 45, Dr. Wildan Hisbullah
Suhma, S.Ak., M.Ak., turut mengapresiasi kepekaan mahasiswa dalam memetik
nilai-nilai kearifan lokal selama masa pengabdian. Momen ini membuktikan bahwa
KKN UIN KHAS Jember tidak hanya berdampak bagi masyarakat, tetapi juga
membentuk karakter integritas dan empati spiritual pada diri mahasiswa.
Perjalanan di Desa Pucang Anom
ini mengajarkan satu pesan berharga yang tak didapatkan di bangku kuliah: bahwa
guru terbaik adalah mereka yang gerakannya sunyi dari tepuk tangan, namun
dampaknya abadi mendidik jiwa.
Penulis: Hildatus Salama
& Tim Mahasiswa KKN 45 UIN KHAS Jember
Tag : Berita Terkini