Paralegal dan Gender Focal Point Diperkuat, LP2M UIN KHAS Jember Mantapkan Gerakan Moderat dan Inklusif

JEMBER – Gedung Kuliah Terpadu (GKT) lantai 2 UIN Kiai
Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Selasa (21/10/2025), mendadak berubah
menjadi ruang pembelajaran yang sarat semangat keadilan sosial. Puluhan dosen
dan mahasiswa dari berbagai fakultas berkumpul mengikuti kegiatan “Peningkatan
Kapasitas Paralegal dan Gender Focal Point PUG” yang digelar Pusat Studi Gender
dan Anak (PSGA) UIN KHAS Jember.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua LP2M UIN KHAS
Jember, Dr. Zainal Abidin, M.Si., didampingi Ketua PSGA, Alfisyah Nurhayati,
M.Pd. Dalam sambutannya, Dr. Zainal menegaskan pentingnya peran akademisi dalam
memperjuangkan nilai kemanusiaan.
“Menjadi paralegal bukan hanya soal memahami hukum,
tapi juga soal empati dan keberanian untuk membela hak orang lain,” tegasnya.
Dua narasumber hadir memberikan wawasan mendalam. Dian
Megawati, S.H., M.H., Kepala Seksi Harta Peninggalan Wilayah I Kanwil
Kemenkumham Jawa Timur, memaparkan strategi pendampingan hukum bagi masyarakat.
Sementara Yamini, Ketua LBH Ahimsa Mahardika Jember, menekankan pentingnya
kepekaan sosial dan perspektif gender dalam setiap tindakan advokasi.
“Paralegal kampus harus peka terhadap realitas sosial.
Banyak persoalan di sekitar kita yang butuh sentuhan advokasi berbasis
keadilan,” ujarnya.
Peserta kegiatan tidak hanya berasal dari kalangan
dosen dan mahasiswa, tetapi juga dihadiri perwakilan Organisasi Masyarakat
Sipil (OMS) mitra PSGA. Kolaborasi ini menjadi bentuk nyata sinergi antara
akademisi dan masyarakat dalam menguatkan kesadaran hukum dan kesetaraan gender
di lingkungan kampus.
Menurut Ibu Alfisyah Nurhayati, selaku Ketua PSGA UIN
KHAS Jember, pelatihan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat
kapasitas Gender Focal Point di setiap fakultas.
“Kami ingin agar setiap fakultas memiliki penggerak
kesetaraan gender. Dari titik inilah kampus dapat menjadi ruang aman, inklusif,
dan adil bagi semua,” jelasnya.
Kegiatan berlangsung interaktif. Diskusi-diskusi
kecil, studi kasus, dan sesi tanya jawab membuat suasana semakin hidup. Di
akhir acara, para peserta sepakat melanjutkan pendalaman materi melalui praktik
pendampingan kasus nyata di masyarakat.
Dari kampus UIN KHAS Jember, semangat paralegal muda
dan pejuang kesetaraan itu mulai menyala membawa pesan bahwa keadilan sosial
dan kesetaraan gender bukan hanya wacana, tetapi panggilan pengabdian.(dsk)
Tag :