Pusatkan Perhatian pada Kemajemukan, Kapus Moderasi Beragama UIN KHAS Jember Paparkan Strategi Ketahanan Nasional di IAIN Takengon

Home >Berita >Pusatkan Perhatian pada Kemajemukan, Kapus Moderasi Beragama UIN KHAS Jember Paparkan Strategi Ketahanan Nasional di IAIN Takengon
Pusatkan Perhatian pada Kemajemukan, Kapus Moderasi Beragama UIN KHAS Jember Paparkan Strategi Ketahanan Nasional di IAIN Takengon
Preview

Media Center – Kepala Pusat Moderasi Beragama LP2M UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember, Dr. H. Shoni Rahmatullah Amrozi, M.Pd.I., menegaskan pentingnya penguatan moderasi beragama sebagai pilar utama dalam menjaga ketahanan nasional di era transformasi digital. Pemikiran tersebut disampaikannya saat hadir sebagai pembicara  dalam Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh LPPM IAIN Takengon, Aceh, pada Kamis (09/07/2026).

Dalam forum yang mengusung tema “Moderasi Beragama Sebagai Pilar Ketahanan Nasional di Tengah Dinamika Global dan Transformasi Digital” tersebut, Dr. Shoni menggarisbawahi bahwa penerapan moderasi beragama di Indonesia bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah strategi kebangsaan yang krusial untuk merawat persatuan di tengah kompleksitas populasi yang multikultural.

"Konsep ini merupakan solusi perdamaian yang dirancang secara matang untuk mengelola perbedaan identitas, dengan tetap menghormati dan tanpa mencampuri urusan teologi masing-masing agama," ujar Dr. Shoni di hadapan para peserta virtual melalui sambungan konferensi video.

Lebih lanjut, Dr. Shoni memaparkan posisi sentral Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai konseptor dan penggerak utama dalam menginstitusikan nilai-nilai moderasi di tanah air. Menurutnya, terdapat empat langkah strategis yang telah dijalankan oleh kementerian dalam merumuskan kerangka kerja nasional tersebut:

  • Formalisasi Gagasan Kebangsaan: Kementerian Agama secara resmi memformulasikan konsep moderasi beragama pada tahun 2019. Langkah ini diambil sebagai respons progresif terhadap tantangan kebangsaan serta dinamika kemajemukan yang kian kompleks.
  • Penyusunan Kerangka Kerja yang Sistematis: Kendati nilai-nilai moderasi telah lama hidup dan dipraktikkan dalam keseharian masyarakat, Kementerian Agama mengambil peran penting dalam menyusun penjabaran yang utuh, terstruktur, dan aplikatif melalui kebijakan yang digulirkan oleh Menteri Agama.
  • Penetapan Batasan Non-Teologis: Dalam merumuskan konsep ini, pemerintah secara sadar menetapkan bahwa moderasi beragama bergerak di ranah sosial-kemasyarakatan, bukan pada ranah teologi. Hal ini menjamin keyakinan dasar setiap agama tetap terjaga tanpa adanya intervensi dogmatis.
  • Instrumen Solutif atas Kemajemukan: Konsep ini dirancang sebagai instrumen pemersatu untuk mengikat populasi Indonesia yang besar dari Sabang sampai Merauke, guna memastikan seluruh elemen bangsa tetap kokoh sebagai satu kesatuan Nusantara.

Menutup pemaparannya, Dr. Shoni menekankan bahwa simplifikasi dari peran Kementerian Agama adalah mentransformasikan praktik sosial yang telah mengakar di masyarakat menjadi sebuah cetak biru (blueprint) nasional. Langkah sistematis ini esensial untuk membentengi integritas bangsa dan mengantisipasi potensi disintegrasi di tengah arus globalisasi.

Penulis: Nurul Yaqin


Tag : Berita Terkini

Diposting Pada : 9 Juli 2026, 13:41 | Oleh : Admin LP2M
Dilihat : 173