ORIENTASI DAN PENGUATAN GENDER MAINSTREAMING, LP2M UIN KHAS JEMBER PERKUAT BUDAYA AKADEMIK RESPONSIF GENDER

JEMBER – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Kiai
Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember yang diketuai oleh Alfisyah Nurhayati
menyelenggarakan kegiatan Orientasi dan Penguatan Gender Mainstreaming bagi
Dosen Muda dan Tenaga Kependidikan LP2M UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember
Tahun 2026, Kamis (30/7/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB
hingga selesai di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) Lantai 2 ini diikuti oleh sekitar
60 peserta yang terdiri atas dosen muda dan tenaga kependidikan.
Hadir sebagai narasumber Dra. Farha Abdul Kadir Assegaf, M.Si., Direktur
Tanoker Ledokombo, serta Prof. Dr. Lilik Huriyah, M.Pd.I., Ketua Pusat Studi
Gender dan Anak (PSGA) UIN Sunan Ampel Surabaya. Kegiatan tersebut juga
dihadiri oleh Ketua LP2M UIN KHAS Jember, Dr. Zainal Abidin, M.Si., dan Wakil
Rektor I UIN KHAS Jember, Prof. Dr. M. Khusna Amal, M.Si.
Dalam sambutannya, Ketua LP2M UIN KHAS Jember, Dr. Zainal Abidin, M.Si.,
menegaskan bahwa pengarusutamaan gender merupakan bagian penting dalam
penguatan tata kelola perguruan tinggi. Menurutnya, ke depan diperlukan
formulasi kebijakan yang mampu memperkuat implementasi Gender Mainstreaming
di lingkungan UIN KHAS Jember.
Ia menjelaskan bahwa pengarusutamaan gender bukan hanya berkaitan dengan
penataan fasilitas atau tempat duduk, melainkan bagaimana membangun sistem
pelayanan akademik yang profesional, aman, dan berkeadilan bagi seluruh sivitas
akademika.
"Saya berharap ke depan setiap dosen memiliki meja dan kursi kerja
sendiri sehingga proses bimbingan mahasiswa dilakukan di lingkungan kampus,
bukan di rumah. Harapan ini untuk meminimalkan terjadinya sesuatu yang tidak
diinginkan sekaligus membangun budaya akademik yang lebih profesional,"
ujarnya.
Dr. Zainal juga mengakui bahwa implementasi pengarusutamaan gender di
UIN KHAS Jember telah menunjukkan perkembangan yang baik. Namun demikian,
menurutnya, penguatan pada aspek sistem dan kultur kelembagaan masih perlu
terus dilakukan agar nilai-nilai kesetaraan benar-benar menjadi bagian dari
kehidupan akademik sehari-hari.
Sementara itu, Wakil Rektor I UIN KHAS Jember, Prof. Dr. M. Khusna Amal,
M.Si., menyampaikan bahwa Gender Mainstreaming merupakan isu strategis
yang hingga kini terus menjadi perhatian berbagai kalangan. Menurutnya, sejak
era Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur),
pengarusutamaan gender telah menjadi bagian dari kebijakan publik yang terus
berkembang hingga saat ini.
Ia menjelaskan bahwa pada era hilirisasi saat ini, perjuangan
pengarusutamaan gender harus diarahkan pada terwujudnya keadilan dan kesetaraan
yang nyata. Meskipun isu gender telah menjadi arus utama dalam berbagai diskusi
akademik maupun kebijakan publik, implementasinya dalam sistem, struktur, dan
kultur kelembagaan masih belum sepenuhnya terwujud.
"Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan harus hadir dalam
sistem, struktur, dan kultur kelembagaan. Sampai hari ini hal tersebut masih
menjadi pekerjaan rumah bersama, termasuk di lingkungan UIN KHAS Jember,"
tegasnya.
Melalui kegiatan orientasi dan penguatan ini, Prof. Khusna Amal berharap
para dosen muda dan tenaga kependidikan memiliki perspektif yang lebih
komprehensif mengenai pengarusutamaan gender sehingga mampu
mengimplementasikannya dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi maupun tata
kelola kelembagaan.
Sementara itu, narasumber Dra. Farha Abdul Kadir Assegaf, M.Si., dan
Prof. Dr. Lilik Huriyah, M.Pd.I., memberikan penguatan mengenai konsep,
strategi, serta implementasi Gender Mainstreaming dalam pendidikan
tinggi. Keduanya menekankan bahwa pengarusutamaan gender bukan hanya menjadi
tanggung jawab Pusat Studi Gender dan Anak, melainkan menjadi komitmen bersama
seluruh sivitas akademika dalam menciptakan lingkungan kampus yang inklusif,
aman, adil, dan setara.
Melalui kegiatan ini, PSGA UIN KHAS Jember berharap para dosen muda dan tenaga kependidikan mampu mengintegrasikan perspektif gender dalam pelaksanaan tugas akademik maupun administrasi, sehingga pengarusutamaan gender tidak berhenti pada tataran kebijakan, tetapi menjadi budaya kerja yang hidup di lingkungan UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.(dsk)
Tag :