Kasus HIV Tembus 9.343, PSGA UIN KHAS Jember Gandeng Banyak Pihak Cegah Pergaulan Bebas Mahasiswa

Jember-Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema pencegahan pergaulan bebas di kalangan mahasiswa, Selasa (18/11/2025), di Hotel Bintang Mulia Jember. Kegiatan ini menjadi wadah sinergi kampus, pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga layanan korban, organisasi masyarakat, dan warga sekitar kampus dalam merespons maraknya persoalan pergaulan bebas yang berisiko pada kesehatan, moral, dan masa depan akademik mahasiswa.
FGD dihadiri antara lain perwakilan Kesbangpol Pemkab Jember, Kepala UPTD PPA Jember beserta bagian pendampingan korban, perwakilan MUI Jember, Fatayat NU, Muslimat NU Cabang Jember, PDA Aisyiyah Jember, LKBHI UIN KHAS Jember, LBH Jentera, LBH Ahimsa, Kanit KPPA Polres Jember, perwakilan masyarakat sekitar, perwakilan dosen UIN KHAS Jember, lembaga pendampingan korban dari organisasi masyarakat sipil, jajaran Dinas Kesehatan beserta Kepala Puskesmas Mangli, Kaliwates, Sukorambi, dan Ajung, Tim Keamanan Kampus UIN KHAS Jember, serta unsur Kecamatan Kaliwates.
Ketua LP2M UIN KHAS Jember, Dr. Zainal Abidin, M.Si., menegaskan bahwa kampus tidak mungkin mengawasi setiap detik aktivitas ribuan mahasiswa yang tinggal tersebar di berbagai kawasan kos dan permukiman sekitar. Karena itu, informasi dan sinergi dengan para pemangku kepentingan dinilai sangat penting untuk memetakan fakta di lapangan. “Kami butuh data dan fakta dari berbagai pihak terkait aktivitas anak-anak kami di kos-kosan, di jalan, dan di warung, terutama pada malam hari. Mahasiswa secara fisik dewasa, dalam masa transisi dari remaja menuju dewasa, sehingga rentan bersikap dan berperilaku keluar dari norma agama, hukum, sosial, dan adat,” ujarnya.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UIN KHAS Jember, Dr. H. Khairul Faizin, M.Ag., menolak sikap permisif dengan alasan mahasiswa “masih jiwa muda”. Menurutnya, pembiaran justru akan berdampak panjang pada prestasi akademik, integritas moral, dan reputasi kampus. “Kalau itu kita biarkan, dampaknya luar biasa. Akademiknya tidak bagus, kesehatan moralnya terganggu, dan kampus menanggung beban moral yang besar. Di belakang nama kampus kita ada huruf ‘I’ untuk Islam. Itu amanah dan tanggung jawab yang sangat besar,” tegasnya.
Dalam sesi pemaparan, perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember menyampaikan data yang mengkhawatirkan: angka pengidap HIV di Jember pada 2025 dilaporkan telah menembus sekitar 9.343 kasus dan kasus baru Januari Hingga Oktober 2025, tercatat sekitar 637 laporan sedangkan yang malakukan ART sebanyak 2.663 orang, dengan banyak penderitanya berasal dari kelompok usia muda, termasuk mahasiswa. Temuan ini menguatkan kekhawatiran bahwa pergaulan bebas dan relasi seksual tidak sehat di kalangan remaja dan mahasiswa memiliki konsekuensi serius pada kesehatan publik.
Data tersebut menjadi alarm bagi peserta FGD untuk mendorong langkah-langkah pencegahan yang lebih sistematis, mulai dari penguatan edukasi dan kampanye kesehatan reproduksi, penyusunan kebijakan internal kampus, hingga mekanisme pelaporan dan penanganan kasus yang lebih efektif. Keterlibatan lembaga bantuan hukum, pendamping korban, serta struktur pemerintah desa, kelurahan, dan kecamatan di sekitar kampus dipandang strategis untuk memutus mata rantai perilaku berisiko.
FGD juga menghadirkan Kepala DP3AKB Jember, Drs. Joko Sutriswanto, M.Si., dan Ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Universitas Jember, Dr. Fanny Tanuwijaya, S.H., M.H., sebagai narasumber. UIN KHAS Jember bersama pemerintah daerah, aparat penegak hukum, lembaga kesehatan, organisasi masyarakat, dan warga sekitar menyepakati pentingnya tindak lanjut berupa pemetaan zona rawan, penguatan regulasi kos-kosan, serta kolaborasi berkelanjutan untuk mencegah pergaulan bebas dan dampaknya di kalangan mahasiswa.
Tag :