Kemenag Siapkan Modul Ramah Anak untuk Santri Baru, Masa Ta’aruf 2026 Bakal Lebih Humanis dan Bebas Perundungan

Media Center - Kementerian Agama RI mulai menyiapkan wajah baru orientasi
santri di pesantren. Mulai Masa Ta’aruf Santri tahun 2026, para santri baru
akan dibekali materi pendidikan ramah anak yang menekankan nilai kemanusiaan,
disiplin positif, hingga pencegahan kekerasan dan perundungan di lingkungan
pesantren.
Langkah strategis ini dilakukan melalui penyusunan Modul Ramah
Anak dalam Orientasi Masa Ta’aruf Santri yang digagas Direktorat
Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Penyusunan modul tersebut
dibahas dalam rapat khusus di Jakarta pada 11–12 Mei 2026.
Program ini menjadi bagian dari upaya besar Kemenag dalam
memperkuat ekosistem pesantren agar semakin aman, inklusif, dan berpihak pada
kepentingan terbaik anak.
Sejumlah tokoh dan pakar turut dilibatkan dalam penyusunan modul
tersebut, di antaranya Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, Mayadina Rohmi
Musfiroh, Diyah Puspitarini dari KPAI, serta Eti Sri Nurhayati dari KemenPPPA.
Forum ini memfokuskan pembahasan pada penguatan orientasi santri baru melalui
pendekatan yang lebih edukatif dan humanis.
Materi yang disiapkan meliputi disiplin positif, pencegahan
perundungan, perlindungan dari kekerasan seksual, kesehatan mental santri,
hingga penguatan budaya pesantren yang ramah dan mendidik.
Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menegaskan bahwa masa ta’aruf
harus menjadi ruang pengenalan nilai dan tradisi pesantren yang aman serta
membangun karakter santri secara bermartabat.
“Pesantren memiliki tradisi luhur dalam mendidik akhlak dan
membentuk karakter. Karena itu, masa ta’aruf santri harus diarahkan menjadi
proses pendidikan yang menggembirakan, mendidik, dan bebas dari praktik
kekerasan maupun perundungan,” ujar Basnang di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Ia menambahkan, penyusunan modul ini merupakan bentuk komitmen
Direktorat Pesantren dalam memperkuat implementasi Pesantren Ramah Anak di
berbagai daerah di Indonesia.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menekankan pentingnya
transformasi budaya pendidikan keagamaan yang adaptif terhadap perkembangan
zaman sekaligus menjunjung tinggi perlindungan hak anak.
“Kementerian Agama terus mendorong transformasi layanan pendidikan
keagamaan yang tidak hanya unggul dalam aspek keilmuan, tetapi juga
menghadirkan rasa aman, penghormatan terhadap martabat anak, dan penguatan
nilai kemanusiaan. Pesantren harus menjadi rumah pendidikan yang melahirkan
generasi berakhlak, sehat, dan bahagia,” ungkapnya.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amin Suyitno, menyebut modul tersebut nantinya
akan menjadi pedoman strategis bagi pesantren di seluruh Indonesia dalam
melaksanakan orientasi santri baru.
Menurutnya, orientasi santri tidak boleh hanya dipahami sebagai
pengenalan lingkungan semata, tetapi juga momentum penting untuk membangun
kultur belajar, adab, dan relasi sosial yang sehat di lingkungan pesantren.
“Pendekatan ramah anak menjadi kebutuhan mendesak dalam tata kelola
pendidikan pesantren saat ini. Penguatan moderasi, pengasuhan, dan disiplin
positif harus menjadi fondasi utama dalam proses pembelajaran di pesantren,”
jelasnya.
Hal senada disampaikan Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kemenag
RI, Arskal Salim. Ia menegaskan bahwa
penguatan pesantren ramah anak membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari
pemerintah, pengasuh pesantren, masyarakat, hingga lembaga perlindungan anak.
“Modul ini diharapkan menjadi instrumen edukatif sekaligus
preventif untuk membangun lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan inklusif
bagi seluruh santri,” tutupnya.
Apresiasi juga datang dari Moh. Nor
Afandi. Ia memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas langkah dan
terobosan baru yang digagas Direktorat Pesantren melalui penyusunan Modul Ramah
Anak dalam Orientasi Masa Ta’aruf Santri.
Menurutnya, gagasan tersebut menunjukkan arah baru pengelolaan
pesantren yang lebih progresif, humanis, dan responsif terhadap kebutuhan
santri di era modern.
“Ini adalah terobosan yang sangat baik dan patut diapresiasi.
Direktorat Pesantren di bawah kepemimpinan Basnang Said menghadirkan paradigma
baru orientasi santri yang tidak lagi menekankan pendekatan keras, tetapi lebih
edukatif, ramah anak, dan berorientasi pada pembentukan karakter santri secara
sehat dan bermartabat,” ujar Nor Afandi.
Ia juga menilai, langkah tersebut menjadi awal yang positif bagi
kepemimpinan Basnang Said dalam menakhodai
Direktorat Pesantren Kementerian Agama RI.
“Pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk generasi
bangsa. Karena itu, penguatan budaya pesantren yang aman, inklusif, dan bebas
dari kekerasan merupakan kebutuhan mendesak. Saya melihat ini sebagai langkah
maju yang akan memperkuat citra pesantren sebagai rumah pendidikan yang penuh
kasih sayang dan nilai-nilai kemanusiaan,” pungkasnya.
Penulis :Tim Media Center
Tag : Berita Terkini